Calendar

April 2015
M T W T F S S
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Gerakan Nasional “Ayo Kerja” Pada 70 tahun Indonesia Merdeka

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri untuk selama-lamanya
……………………………………………………
Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya
Untuk Indonesia Raya

AYO KERJATujuh puluh Indonesia Merdeka adalah rakhmat tak ternilai dari Allah Yang Maha Kuasa. Kita meyakini sebagaimana para Bapak dan Ibu Bangsa Indonesia meyakini, bahwa Indonesia Merdeka adalah suatu jembatan emas untuk mewujudkan semua harapan berbangsa dan bernegara, yakni: memiliki Indonesia yang “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Harapan itu hanya bisa dicapai dengan kerja. Hanya melalui kerja sebuah bangsa akan meraih kemakmuran dan kejayaannya. Hanya melalui kerja, bangsa Indonesia akan bisa membangun jiwa dan sekaligus membangun raganya untuk kejayaan Indonesia Raya. Hanya melalui kerja, Republik Indonesia akan dapat berdiri kokoh untuk selama-lamanya dan mampu mewujudkan semua cita-cita mulia yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

Kerja yang dimaksud bukanlah semata-mata kerja biasa. Kerja haruslah dilakukan dengan keinsyafan akan kekuatan dari Persatuan Indonesia. Kerja yang dilakukan dengan gotong royong. Gotong royong dari seluruh anak bangsa tanpa kecuali. Gotong royong bukan hanya urusan rakyat, para pemimpin-pun harus mampu memberi contoh bergotong royong dalam kerja. Karena kita yakin bahwa tantangan besar yang dihadapi bangsa Indonesia hari ini dalam aras nasional, regional dan global memerlukan suatu upaya bersama yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Gotong-royong dalam kerja seharusnya menjadi jiwa gerakan perayaan 70 tahun kemerdekaan Indonesia.

Melalui Gerakan Nasional 70 Tahun Indonesia Merdeka, yang dicanangkan tepat di Nol Kilometer Indonesia di Kota Sabang ini, Presiden Joko Widodo bertekad menjadikannya sebagai titik tolak mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia dengan gotong royong. Presiden Joko Widodo ingin menggunakan momentum perayaan 70 tahun Indonesia merdeka untuk memperbarui tekad dalam mewujudkan harapan seluruh rakyat Indonesia. Harapan para petani. Harapan para nelayan. Harapan kaum buruh, Harapan rakyat di kawasan perbatasan dan pulau-pulau terluar. Harapan dari segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Dengan keinsyafan itulah, dari Nol Kilometer Indonesia ini Presiden Joko Widodo menyerukan: Ayo Kerja! Ayo Kerja! Ayo Kerja! Presiden Joko Widodo mengajak kerja bersama-sama untuk membuat harapan rakyat itu bisa terwujud. Gerakan “Ayo Kerja” ini merupakan satu langkah besar mewujudkan impian Indonesia Merdeka dalam arti sesungguhnya.

Ayo kerja bukanlah slogan semata melainkan sebuah pergerakan. Pergerakan apa? Pergerakan seperti halnya yang pernah dibayangkan oleh Bung Karno, Bapak Bangsa dan Proklamator Kemerdekaan bahwa “…pergerakan kita janganlah pergerakan yang kecil-kecilan; pergerakan kita itu haruslah pada hakekatnya suatu pergerakan yang ingin mengubah sama sekali sifatnya masyarakat, suatu pergerakan yang ingin menjebol kesakitan-kesakitan masyarakat sampai kesulur-sulurnya dan akar-akarnya.” Presiden Joko Widodo memiliki keyakinan yang sama bahwa pergerakan yang kita ingin bangun adalah pergerakan menjebol mentalitas bangsa yang berada dalam keterjajahan, ketertindasan, ketidakadilan, ketidak merdekaan serta membangun mentalitas baru sebagai bangsa yang merdeka 100 persen. Itulah makna yang paling mendasar dari revolusi mental Ayo Kerja! Sesungguhnya adalah perwujudan praktis dari gerakan revolusi mental yang juga dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo sejak awal pemerintahannya.

Revolusi mental itu bukan hanya untuk rakyat namun harus menjangkau dan mengikat para penyelenggara negara. Para penyelenggara negara memiliki tanggung jawab moral maupun konstitusional untuk bekerja jujur, tanpa pamrih, melayani rakyat secara paripurna. Gerakan Nasional “Ayo Kerja” tidak ingin berhenti pada slogan ataupun perayaan semata, tapi gerakan ‘Ayo Kerja’ ingin menjadi gerakan nyata yang diharapkan mampu membangkitkan semangat rakyat dalam mewujudkan impian Indonesia Merdeka. Gerakan “Ayo Kerja” juga berupaya mendorong partisipasi seluruh rakyat Indonesia untuk terlibat, turun tangan secara bersama-sama mewujudkan impiannya.

Dalam pencanangan Gerakan Nasional “Ayo Kerja” ini, Presiden Joko Widodo menyaksikan pembacaan impian Indonesia 70 Tahun ke depan dari salah seorang perwakilan anak bangsa di ujung paling barat Indonesia. Penulisan impian anak bangsa itu akan disimpan secara rapi dalam “Kapsul Waktu”. Membayangkan Indonesia 70 Tahun ke depan di harapkan bergulir di seluruh pelosok Indonesia: mulai dari desa-desa di pedalaman, kampung-kampung pesisir sampai dengan di kota-kota. Impian seluruh rakyat Indonesia dari 34 Provinsi akan disimpan dalam “Kapsul Waktu” yang rencananya perjalanannya berakhir di Provinsi Papua, tepatnya di ujung timur Indonesia, Merauke. Di Merauke inilah Presiden Joko Widodo akan menuliskan impiannya tentang 70 Tahun Indonesia ke depan dan menyimpannya dalam “Kapsul Waktu”. Membayangkan Indonesia masa depan melalui “Kapsul Waktu”, adalah menuliskan harapan tentang kemajuan dan kejayaan Indonesia Raya. Tugas kita bersama untuk bergerak mewujudkannya. Ayo Kerja! (www.setneg.go.id)

Kenalkan Siskohatkes ke Operator

Bertempat di ruang kelas UPTD Penelitian dan Sistem Informasi Kesehatan, selama 3 hari Rabu-Jum’at (15 – 17 April 2015) dilaksanakan Sosialisasi untuk pengisian data jemaah haji melalui aplikasi E-BKJH dan SISKOHATKES secara offline dan online.

IMG_4218-webPeserta Sosialiasi aplikasi E-BKJH dan SISKOHATKES
Peserta pertemuan ini dari operator komputer Puskesmas dan pengelola program haji di Puskesmas masing-masing. Seluruh puskesmas di Kabupaten Tulungagung dihadirkan dalam pertemuan ini dan dibagi menjadi beberapa gelombang agar lebih fokus dan memberikan pemahaman yang lebih kepada peserta.

Materi pertemuan disampaikan oleh staf Bidang Pelayanan Kesehatan yang berpengalaman dan sudah menerima pelatihan tentang aplikasi Siskohatkes dan E-BKJH di tingkat provinsi. Peserta pertemuan ini mengikuti dengan penuh antusias dan seksama. (afs/dinkes)

Tularkan ilmu sistem informasi ke Dinkes Kota Blitar

Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung beberapa hari yang lalu mendapat kehormatan sebagai Narasumber dalam Pelatihan Sinkronisasi Data yang diadakan di Dinas Kesehatan Kota Blitar. Pelatihan yang berlangsung selama 3 hari (18-20 Maret 2015) bertujuan untuk memberikan wawasan bagi karyawan Dinas Kesehatan Kota Blitar baik yang ada di Puskesmas maupun di bidang-bidang lingkup Dinas akan pemanfaatan teknologi informasi untuk mendapatkan laporan maupun data yang berkaitan dengan program-program yang ada.

Tim SIK dari Kabupaten Tulungagung sedang memberikan materi

Tim SIK dari Kabupaten Tulungagung sedang memberikan materi

Dengan dibuka oleh Bapak Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Blitar, pelatihan yang diikuti oleh 15 peserta dari lingkup Dinas Kesehatan Kota Blitar dan 3 Puskesmas se Kota Blitar berjalan cukup lancar. Peserta secara aktif mengikuti materi yang diberikan narasumber dan mempraktekkan secara langsung teori-teori yang diberikan serta mencoba menerapkannya.

Materi yang disampaikan antara lain pengumpulan data secara elektronik menggunakan media Google Drive. Dalam penerapannya ke depan, pemberi data cukup mengentry data yang dibutuhkan pengumpul data melalui komputer nya masing-masing. Dan setelah diverifikasi dan divalidasi, data sudah siap untuk digunakan lebih lanjut. Jadi sudah tidak ada lagi setoran data manual menggunakan kertas (paperless). (afs/dinkes)

Gerakan Kerja Bakti Serentak PSN DBD

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang menginfeksi bagian tubuh melalui sistem peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty yang terinfeksi. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah menjadi masalah nasional karena jumlah penderita dan kematian yang diakibatkannya cukup tinggi, sehingga dapat menimbulkan keresahan pada masyarakat. Di Kecamatan Tulungagung kasus penderita DBD cukup tinggi meski tidak ada kasus kematian. Oleh Karena itu diperlukan adanya suatu penanganan yang serius untuk mengantisipasi merebaknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kecamatan Tulungagung.

Atas dasar himbauan Bupati Tulungagung dalam Penanggulangan Kasus Demam Berdarah yang akhir-akhir ini kasus DBD semakin meningkat, maka Kecamatan Tulungagung yang dipimpin Bapak Arief Boediono selaku Camat, menindaklanjuti himbauan tersebut dengan melaksanakan kegiatan Gerakan Kerja Bakti Serentak PSN DBD di Kelurahan se-Kecamatan Tulungagung. Kegiatan Kerja Bakti Serentak PSN DBD ini adalah gerakan yang dilakukan secara serentak di Kelurahan se Kecamatan Tulungagung dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk dengan melakukan kebersihan lingkungan dan 3M plus diantaranya Menguras, Menutup dan Mengubur barang-barang bekas agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya (Breading Place) jentik nyamuk Aedes Aegpty sp. Kegiatan ini dilaksanakan pada Hari Minggu tanggal 15 Pebruari 2015 dimulai pukul 06.00 serentak di 14 Kelurahan, yaitu :
1. Kelurahan Kampungdalem,
2. Kelurahan Kenayan
3. Kelurahan Botoran
4. Kelurahan Panggungrejo
5. Kelurahan Kedungsoko
6. Kelurahan Kutoanyar
7. Kelurahan Tertek
8. Kelurahan Karangwaru
9. Kelurahan Tamanan
10. Kelurahan Bago
11. Kelurahan Jepun
12. Kelurahan Kauman
13. Kelurahan Kepatihan
14. Kelurahan Sembung

Adapun tujuan secara umum dilakukannya Kegiatan Kerja Bakti Serentak PSN DBD adalah untuk meningkatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) sehingga seluruh Masyarakat terbebas dari penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD. Secara khusus bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap kesehatan lingkungan yang merupakan salah satu faktor pencetus meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan tersebut. Dalam upaya pemberantasan DBD hanya dapat berhasil apabila seluruh masyarakat berperan secara aktif dalam PSN DBD. Kegiatan ini merupakan bagian yang paling penting dari keseluruhan upaya pemberantasan DBD selain itu peran kader Jumatik sangat dibutuhkan untuk mengecek kondisi pemukiman warga dari jentik nyamuk DBD. (sumber: Puskesmas Sembung)

Chikungunya bukan penyakit mematikan

Akhir-akhir ini banyak ditemukan kasus demam yang disertai nyeri sendi di beberapa daerah. Meskipun belum dipastikan lewat pemeriksaan contoh darah (serologi), dari gejala klinis yang dialami penderita hampir dipastikan penyakit yang dianggap misterius oleh masyarakat itu adalah demam Chikungunya.

aedes_aegyptiMenurut Dr. Thomas Suroso, MPH, Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PPM dan PL Departemen Kesehatan Republik Indonesia, gejala klinis yang dimaksud mirip dengan gejala demam berdarah dengue yaitu demam mendadak, menggigil, muka kemerahan, mual, muntah, nyeri punggung, nyeri kepala, Fotofobia, dan timbul bintik-bintik kemerahan terutama di daerah badan. Nyeri sendi terutama di sendi siku, lutut, pergelangan kaki dan sendi-sendi kecil di pergelangan tangan dan kaki yang berlangsung beberapa hari sampai satu minggu. Ini gejala yang sangat spesifik untuk penyakit Chikungunya.

Meskipun tidak menimbulkan kematian, serangan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dapat menimbulkan kepanikan dan ketakutan masyarakat. Masa inkubasi demam Chikungunya 3-11 hari, terbanyak 2-4 hari. Karena penderita seolah-olah menjadi lumpuh dan sakit ketika bergerak.

Menurut Dr. Rita Kusriastuti, M.Sc., Kepala Sub Direktorat Arbovirosis Direktorat Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PPM dan PL Departemen Kesehatan Republik Indonesia, vaksin untuk pencegahan dan obat untuk membasmi virus Chikungunya belum ada, sehingga cara yang paling efektif adalah dengan pencegahan. Cara pencegahan umumnya sama dengan cara pencegahan terhadap penyakit-penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yaitu melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan menggunakan repelen, obat nyamuk coil, penggunaan kelambu, melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan tindakan tiga M (menutup, menguras dan mengubur barang bekas yang bisa menampung air atau menaburkan bubuk abate pada penampungan air sebagaimana mencegah demam berdarah), penyemprotan untuk membunuh nyamuk dewasa yang terinfeksi dan memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya KLB.

Tidak ada pengobatan spesifik bagi penderita demam Chikungunya, cukup minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit yang bisa dibeli di toko obat, apotik bahkan di warung-warung. Berikan waktu istirahat yang cukup, minum dan makanan bergizi. Selain itu masyarakat dapat berperan dalam penanganan kasus demam Chikungunya yakni dengan melaporkan kepada Puskesmas/Dinas Kesehatan setempat. Isolasi/hindari penderita dari kemungkinan digigit nyamuk, agar tidak menyebarkan ke orang lain.

Demam Chikungunya telah dikenal ratusan tahun yang lalu. Dari sejarah diduga KLB Chikungunya terjadi pada tahun 1779 di Batavia dan Cairo; 1823 di Zanzibar ; 1824 di India ; 1870 di Zanzibar ; 1871 di India; 1901 di Hongkong, Burma dan Madras; 1923 di Calcuta dan pada tahun 1928 di Cuba yang untuk pertama kalinya digunakan istilah “dengue”.

Dari tahun 1952 virus Chikungunya telah menyebar luas di daerah Afrika dan menyebar ke Amerika dan Asia. Virus Chikungunya menjadi endemis di wilayah Asia Tenggara. Pada akhir tahun 1950 dan 1960 virus berkembang di Thailand, Kamboja, Vietnam, Manila dan Birma. Pada tahun 1965 menimbulkan KLB di Srilanka. Tidak ada kematian karena Chikungunya.

KLB Chikungunya di Indonesia pernah dilaporkan pada tahun 1973 yang terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Tahun 1980 di Kuala Tungkal, Jambi dan pada tahun 1983 di Yogyakarta. Sejak tahun 1985 seluruh provinsi di Indonesia pernah melaporkan adanya KLB Chikungunya. Laporan KLB Chikungunya mulai terjadi lagi di Muara Enim pada tahun 1999, Aceh pada tahun 2000, Jawa Barat (Bogor, Bekasi, Depok) pada tahun 2001. KLB terjadi secara bersamaan pada penduduk satu kesatuan wilayah (RW/Desa). Oleh karena itu masyarakat tidak perlu takut lagi, ini bukan penyakit “misterius dan menakutkan”.

Pada tahun 2002 banyak daerah melaporkan terjadinya KLB Chikungunya seperti Palembang, Semarang, Jawa Barat dan Sulawesi Utara.Pada awalnya terjadi kebingungan untuk membedakan DEN (Dengue) dengan Chik (Chikungunya), tetapi sejak dapat dilakukan isolasi virus maka kedua penyakit ini dapat dibedakan, demikian juga gejala klinisnya yaitu Chikungunya lebih dominan pada nyeri di sendi-sendi. (sumber : depkes.go.id)