Calendar

January 2015
M T W T F S S
« Nov    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Chikungunya bukan penyakit mematikan

Akhir-akhir ini banyak ditemukan kasus demam yang disertai nyeri sendi di beberapa daerah. Meskipun belum dipastikan lewat pemeriksaan contoh darah (serologi), dari gejala klinis yang dialami penderita hampir dipastikan penyakit yang dianggap misterius oleh masyarakat itu adalah demam Chikungunya.

aedes_aegyptiMenurut Dr. Thomas Suroso, MPH, Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PPM dan PL Departemen Kesehatan Republik Indonesia, gejala klinis yang dimaksud mirip dengan gejala demam berdarah dengue yaitu demam mendadak, menggigil, muka kemerahan, mual, muntah, nyeri punggung, nyeri kepala, Fotofobia, dan timbul bintik-bintik kemerahan terutama di daerah badan. Nyeri sendi terutama di sendi siku, lutut, pergelangan kaki dan sendi-sendi kecil di pergelangan tangan dan kaki yang berlangsung beberapa hari sampai satu minggu. Ini gejala yang sangat spesifik untuk penyakit Chikungunya.

Meskipun tidak menimbulkan kematian, serangan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dapat menimbulkan kepanikan dan ketakutan masyarakat. Masa inkubasi demam Chikungunya 3-11 hari, terbanyak 2-4 hari. Karena penderita seolah-olah menjadi lumpuh dan sakit ketika bergerak.

Menurut Dr. Rita Kusriastuti, M.Sc., Kepala Sub Direktorat Arbovirosis Direktorat Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Ditjen PPM dan PL Departemen Kesehatan Republik Indonesia, vaksin untuk pencegahan dan obat untuk membasmi virus Chikungunya belum ada, sehingga cara yang paling efektif adalah dengan pencegahan. Cara pencegahan umumnya sama dengan cara pencegahan terhadap penyakit-penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yaitu melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan menggunakan repelen, obat nyamuk coil, penggunaan kelambu, melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan tindakan tiga M (menutup, menguras dan mengubur barang bekas yang bisa menampung air atau menaburkan bubuk abate pada penampungan air sebagaimana mencegah demam berdarah), penyemprotan untuk membunuh nyamuk dewasa yang terinfeksi dan memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya KLB.

Tidak ada pengobatan spesifik bagi penderita demam Chikungunya, cukup minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit yang bisa dibeli di toko obat, apotik bahkan di warung-warung. Berikan waktu istirahat yang cukup, minum dan makanan bergizi. Selain itu masyarakat dapat berperan dalam penanganan kasus demam Chikungunya yakni dengan melaporkan kepada Puskesmas/Dinas Kesehatan setempat. Isolasi/hindari penderita dari kemungkinan digigit nyamuk, agar tidak menyebarkan ke orang lain.

Demam Chikungunya telah dikenal ratusan tahun yang lalu. Dari sejarah diduga KLB Chikungunya terjadi pada tahun 1779 di Batavia dan Cairo; 1823 di Zanzibar ; 1824 di India ; 1870 di Zanzibar ; 1871 di India; 1901 di Hongkong, Burma dan Madras; 1923 di Calcuta dan pada tahun 1928 di Cuba yang untuk pertama kalinya digunakan istilah “dengue”.

Dari tahun 1952 virus Chikungunya telah menyebar luas di daerah Afrika dan menyebar ke Amerika dan Asia. Virus Chikungunya menjadi endemis di wilayah Asia Tenggara. Pada akhir tahun 1950 dan 1960 virus berkembang di Thailand, Kamboja, Vietnam, Manila dan Birma. Pada tahun 1965 menimbulkan KLB di Srilanka. Tidak ada kematian karena Chikungunya.

KLB Chikungunya di Indonesia pernah dilaporkan pada tahun 1973 yang terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Tahun 1980 di Kuala Tungkal, Jambi dan pada tahun 1983 di Yogyakarta. Sejak tahun 1985 seluruh provinsi di Indonesia pernah melaporkan adanya KLB Chikungunya. Laporan KLB Chikungunya mulai terjadi lagi di Muara Enim pada tahun 1999, Aceh pada tahun 2000, Jawa Barat (Bogor, Bekasi, Depok) pada tahun 2001. KLB terjadi secara bersamaan pada penduduk satu kesatuan wilayah (RW/Desa). Oleh karena itu masyarakat tidak perlu takut lagi, ini bukan penyakit “misterius dan menakutkan”.

Pada tahun 2002 banyak daerah melaporkan terjadinya KLB Chikungunya seperti Palembang, Semarang, Jawa Barat dan Sulawesi Utara.Pada awalnya terjadi kebingungan untuk membedakan DEN (Dengue) dengan Chik (Chikungunya), tetapi sejak dapat dilakukan isolasi virus maka kedua penyakit ini dapat dibedakan, demikian juga gejala klinisnya yaitu Chikungunya lebih dominan pada nyeri di sendi-sendi. (sumber : depkes.go.id)

Lindungi Ibu dan Bayi dengan Imunisasi

Dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia, masih ditemukan tantangan besar dalam pembangunan kesehatan, yaitu Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Mengutip data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan bahwa AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2012. Ini berarti di Indonesia, ditemukan kurang lebih 44 orang ibu meninggal dan 440 bayi yang meninggal setiap harinya.

Merujuk pada penyebab kematian ibu, penyebab langsung terbanyak kematian ibu adalah perdarahan, infeksi dan hiertensi dalam kehamilan; penyebab kematian bayi terbanyak disebabkan oleh masalah neonatal seperti berat bayi lahir rendah (BBLR), Asfiksia, Diare, dan Pneumonia, serta beberapa penyakit infeksi lainnya, dimana penyakit infeksi tersebut dapat dicegah dengan imunisasi.

Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan beberapa alasan anak tidak diimunisasi antara lain karena takut anaknya panas, keluarga tidak mengizinkan, tempat imunisasi jauh, kesibukan orang tua, seringnya anak sakit, dan tidak tahu tempat imunisasi, ujar Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), pada pembukaan kegiatan Workshop Peningkatan Kesehatan Ibu dan Imunisasi di Jakarta, Rabu malam (17/12).

Sebenarnya, terdapat peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap dari 89% pada 2010 menjadi 90% pada 2013. Capaian Universal Child Immunization (UCI) atau desa yang 100% cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi juga meningkat dari 75,3% pada 2010 menjadi 82% pada 2013. Namun, target yang ditetapkan belum tercapai, yaitu 95% pada 2013.

Ini menyebabkan banyaknya kantong-kantong imunisasi yang berisiko menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), terang Menkes.

Pada kesempatan tersebut, Menkes menyatakan masalah kesehatan ibu dan bayi sangat kompleks. Faktor yang berkontribusi besar dalam meningkatkan risiko kematian ibu dikenal dengan istilah 4 Terlalu, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, dan terlalu banyak anak. Faktor keterlambatan juga berpengaruh, yakni terlambat mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan, terlambat dalam mencapai fasilitas pelayanan kesehatan, serta terlambat mendapatkan pertolongan.

Upaya Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Bayi

Pemerintah bersama seluruh lapisan masyarakat terus berupaya untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas seperti yang tercantum di dalam Rencana Aksi Nasional Penurunan Angka Kematian Ibu (RAN PP AKI) 2013-2015. Program utama yang dilaksanakan diantaranya: 1) Menempatkan tenaga kesehatan dalam jumlah dan kualitas sesuai standar; 2) Menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar; 3) Menjamin terlaksananya rujukan efektif pada kasus komplikasi melalui penyediaan pelayanan PONED dan PONEK 24 jam 7 hari; 4) Memobilisasi masyarakat untuk pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dengan Pencegahan Komplikasi (P4K); 5) Penjaminan dukungan Pemda terhadap regulasi yang mendukung pelaksanaan program kesehatan; serta 6) Peningkatan kemitraan dengan lintas sektor dan swasta, hal ini didukung dengan penguatan sistem pembiayaan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Pemecahan masalah kesehatan ibu dan bayi ada dalam suatu rangkaian upaya kesehatan berkelanjutan yang dikenal sebagai continuum of care mulai dari hulu sampai ke hilir yaitu sebelum masa hamil, masa kehamilan, persalinan dan nifas. Adapun upaya di hulu antara lain: 1) meningkatkan status gizi perempuan dan remaja; 2) meningkatkan pendidikan kesehatan reproduksi remaja; 3) meningkatkan konseling meliputi pranikah untuk calon pengantin, KB, Gizi dan imunisasi; serta 4) meningkatkan peran aktif suami, keluarga, tokoh agama, tokoh adat, kader dan masyarakat, misalnya kemitraan bidan dan dukun.

Imunisasi Murah dan Efektif

Imunisasi lengkap dapat melindungi anak dari wabah, kecacatan dan kematian. Orang tua diharapkan melengkapi imunisasi anak mereka agar seluruh anak Indonesia terbebas dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah lewat imunisasi. Imunisasi melindungi anak-anak dari beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan, bahkan kematian. Lebih lanjut, imunisasi tidak membutuhkan biaya besar, bahkan di Posyandu anak-anak mendapatkan imunisasi secara gratis.

Ada lima (5) jenis imunisasi yang diberikan secara gratis di Posyandu, yang terdiri dari imunisasi Hepatitis B, BCG, Polio, DPT-HIB, serta campak. Semua jenis vaksin ini harus diberikan secara lengkap sebelum anak berusia 1 tahun diikuti dengan imunisasi lanjutan pada Batita dan Anak Usia Sekolah. Tahun 2013 pemerintah telah menambahkan Vaksin HIB (Haemophilus Influenza Tipe B), yang digabungkan dengan vaksin DPT-HB menjadi DPT-HB-Hib yang disebut vaksin pentavalen.
1. Vaksin Hepatitis B diberikan pada bayi baru lahir untuk mencegah penularan Hepatitis B dari ibu ke anak pada proses kelahiran. Hepatitis B dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati.
2. Vaksin BCG diberikan satu kali pada usia 1 bulan guna mencegah kuman tuberkulosis menyerang paru, dan selaput radang otak yang bisa menimbulkan kematian atau kecacatan
3. Vaksin Polio diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah lumpuh layu.
4. Vaksin Campak diberikan dua kali pada usia 9 bulan dan 24 bulan untuk mencegah penyakit campak berat yang dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak.
5. Vaksin DPT-HB-HIB diberikan 4 kali, pada usia 2, 3, 4 dan 18 bulan guna mencegah 6 penyakit, yaitu: Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang otak). Penyakit Difteri dapat menyebabkan pembengkakan dan sumbatan jalan nafas, serta mengeluarkan racun yang dapat melumpuhkan otot jantung. Penyakit Pertusis berat dapat menyebabkan infeksi saluran nafas berat (Pneumonia). Kuman Tetanus mengeluarkan racun yang menyerang syaraf otot tubuh, sehingga otot menjadi kaku, sulit bergerak dan sulit bernafas. Kuman Haemophilus Influenza tipe B dapat menyebabkan Pneumonia dan Meningitis.

Workshop Lindungi

Ibu dan Bayi dengan Imunisasi

Dalam laporannya, Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak Kemenkes RI, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, menuturkan bahwa kegiatan Workshop Peningkatan Kesehatan Ibu dan Imunisasi merupakan salah satu bagian dari rangkaian Kampanye Peduli Kesehatan Ibu yang diawali pada tanggal 21 April 2014 dengan mengambil momentum peringatan Hari Kartini sebagai titik awal, dan diakhiri pada Hari Ibu tanggal 22 Desember 2014 yang kegiatannya akan terus berlanjut.

Workshop ini diharapkan dapat memberikan gambaran realita di lapangan, khususnya pengalaman keberhasilan dalam meningkatkan akses dan kulitas pelayanan KIA dan imunisasi, ujar dr. Anung.

Dalam rangkaian workshop tersebut, dilakukan pula pemutaran film pelayanan KIA dan Imunisasi, panel diskusi yang membahas mengenai Kesehatan Ibu dan Imunisasi Ditinjau dari Sudut Pandang Agama dan Budaya, talkshow, pemberian tanda ucapan terima kasih kepada pelaku yang menunjukkan komitmennya dalam Peningkatan Pelayanan KIA dan Imunisasi. Dalam workshop yang terselenggara atas kerjasama Kemenkes RI bersama Health System Strengthening GAVI Alliance dilaksanakan juga mini university untuk mensosialisasikan program Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health (AIPMNH) yang telah dilakukan di 14 Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam program GAVI HSS, yang mempunyai indikator persalinan oleh tenaga kesehatan, diharapkan akan mendukung dan menjamin kontinuitas imunisasi kepada bayinya. Cakupan imunisasi dan pelayanan KIA memiliki sasaran yang sama, sehingga melalui penguatan program KIA diharapkan cakupan imunisasi juga akan meningkat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Dan disiarkan kembali oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung.

Warga Pulotondo manfaatkan TOGA untuk kesejahteraan keluarga

Dari agenda kunjungan Tim Penilai Lomba 10 Program Pokok PKK dari Provinsi Jawa Timur di Desa Pulotondo, Kecamatan Ngunut pada Selasa (11/11/2014) yang lalu diketahui bahwa Desa Pulotondo telah berhasil membudidayakan tanaman obat keluarga (TOGA) dan dimanfaatkan sebagai jamu untuk pengobatan tradisional, dan bahkan makanan dan minuman.

Hal ini tak lepas dari peran serta Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung beserta Tim Penggerak PKK Kabupaten Tulungagung yang sudah melakukan pembinaan dan pelatihan sejak tahun 2012. Dari pelatihan tersebut ditindaklanjuti dengan pembentukan desa percontohan TOGA di setiap kecamatan di Kabupaten Tulungagung dengan pembudidayaan 10 jenis tanaman obat keluarga dan salah satunya yang menonjol adalah Desa Pulotondo ini.

Tim Penilai dari Provinsi sedang berbincang dengan Ketua TP-PKK Kabupaten

Tim Penilai dari Provinsi sedang berbincang dengan Ketua TP-PKK Kabupaten

Bersama Tim Penggerak PKK Kecamatan Ngunut, warga Desa Pulotondo membentuk kelompok pemanfaatan TOGA yang beranggotakan Kader TOGA Desa Pulotondo dan masyarakat. Selain itu juga dibentuk kelompok-kelompok budidaya TOGA sampai ke tingkat dasawisma. Kelompok tersebut melakukan pendataan TOGA yang dimiliki tiap-tiap rumah dan pemanfaatan hasilnya.

Potensi terbesar di Desa Pulotondo adalah budidaya dan pemanfaatan Jeruk Purut. Hampir 35% masyarakat desa ini menggantungkan hidupnya pada komoditas tersebut. Budidaya jeruk purut bisa panen hingga 2 kali dalam setahun. Daun jeruk purut bisa dijual langsung ke pengepul atau juga bisa diolah menjadi produk pangan seperti serbuk daun jeruk purut, campuran minuman hangat dan makanan.

Tidak hanya itu, batang pohon jeruk purut juga bisa diolah menjadi minyak atsiri melalui proses penyulingan. Desa Pulotondo sudah memiliki usaha penyulingan batang jeruk purut dan telah menjalin kerjasama dengan perusahaan besar yang siap menampung minyak atsiri ini. Dari usaha yang dirintis oleh Bapak Masrowi ini berhasil menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar Desa Pulotondo.

Harapannya, setelah Tim Penilai Lomba 10 Program Pokok PKK melihat langsung kondisi langsung di lapangan dan setelah melakukan evaluasi dan penilaian, Desa Pulotondo bisa mendapatkan nilai yang terbaik dan semoga bisa menjadi wakil Provinsi Jawa Timur di lomba tingkat Nasional. (afs/dinkes)

Sambut Ulang Tahun Emas Pembangunan Kesehatan Indonesia

Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-50 merupakan momentum yang tepat untuk menyuarakan kepada masyarakat agar bangkit dan mulai meninggalkan upaya kesehatan yang bersifat kuratif menuju upaya kesehatan yang lebih didominasi semangat preventif.

banner-main-hari-kesehatan-nasional-12-november-2014

Maka dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang ke-50, Dinas Kesehatan Kabupaten mengadakan serangkaian kegiatan dalam memeriahkan peringatan emas HKN yang mengambil tema “Sehat Bangsaku, Sehat Negeriku”. Adapun jadwal kegiatan sebagaimana berikut :

No Waktu Kegiatan Lokasi
1 4 – 5 Nopember 2014 Turnamen Bulutangkis/Badminton Gedung Mandala Krida, Rejoagung
2 7 – 8 Nopember 2014 Pengobatan Massal di Panti Asuhan Beberapa panti asuhan di Tulungagung
3 19 Nopember 2014 Pembagian sembako bagi tukang becak Di sekitar kantor Dinas Kesehatan
4 3 – 21 Nopember 2014 Kampanye dan Aksi Donor Darah Sukarela Lokasi menyusul
5 21 Nopember 2014 Senam Tulungagung Sehat dan Fun Game Halaman Kantor Dinas Kesehatan
6 22 Nopember 2014 Pengobatan Massal dengan penyerahan APD Perkampungan Nelayan Pantai Sine
7 28 Nopember 2014 Tumpengan Massal Dinas Kesehatan
8 29 Nopember 2014 Operasi Katarak Gratis Klinik Zidan Medika Bandung

Demikian, semoga rangkaian kegiatan Hari Kesehatan Nasional ke-50 yang akan dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung. Semoga kegiatan diatas dapat berjalan sukses dan lancar.

Puskesmas Tiudan Ikuti Gelar Budaya Kerja Tingkat Provinsi

Bertempat di Hotel Insumo, Kediri, pada Rabu, 22 Oktober 2014 yang lalu dilaksanakan Gelar Budaya Kerja di lingkungan Pemprov Jatim dan Kabupaten/Kota se Jawa Timur. Dinas Kesehatan ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan mengirimkan Kelompok Budaya Kerja (KBK) “SEHATI” dari Puskesmas Tiudan. Kegiatan Gelar Budaya Kerja yang diselenggarakan setiap tahun ini bertujuan untk mengembangkan serta menanamkan nilai budaya kerja kepada individu di SKPD demi meningkatkan kinerja SKPD tersebut.

Dari Peserta Lomba Gelar Budaya Kerja Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 sebanyak 60 (enam puluh) Kelompok Budaya Kerja (KBK) berasal dari SKPD Provinsi dan Kabupaten / Kota se Jawa Timur, terdiri dari 3 (tiga) kelompok bidang sebagai berikut:

Kelompok Bidang Jasa Medis : sebanyak 24 KBK
Kelompok Bidang Jasa Non Medis : sebanyak 18 KBK
Kelompok Bidang Administrasi : sebanyak 18 KBK

IMG_4342Sedangkan KBK “SEHATI” dari Puskesmas Tiudan masuk dalam kategori Bidang Jasa Medis yang bersaing dengan peserta dari KBK Kab./Kota di Jawa Timur dalam Lomba Gelar Budaya Kerja Tingkat Provinsi Tahun 2014.

Sebagaimana tujuan kegiatan KBK yaitu untuk meningkatkan motivasi pegawai dalam menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik adaptif, berintegritas, berkinerja tinggi, bersih dan bebas dari KKN, mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara, Tim KBK “SEHATI” Puskesmas Tiudan mampu menampilkan fragmen, serta menyampaikan risalah hasil kelompok budaya kerja dengan baik dan memukau dewan juri. (afs/dinkes)